Selasa, 05 Oktober 2010

unek-unek *_*

H-4 REUNI AKBAR SMP NEGERI 47 JKT. waw, bentar lagi nih pas tanggal 10 oktober 2010 jam 10:00. aaaah~ pasti dia dateng deh reuni. gue bingung mesti  kayak gimana. sok kenal (emang kenal sih) apa malah cuek? tengsing gila gue kalo sampe ketemu dia. Ya Allah semoga dia gak nanya apa-apa deh sama gue. bisa mati gaya gue jawabnya. apalagi kalo dia nanya " kenapa lo nge-blockir fb gue? bales dendam? ". kira-kira gue jawab apa nih.. juju sih gue ngarep lo dateng, tapi apa nanti lo bakal negor gue pas reuni. feeling gue lo bakal gak negor gue, lo merasa gak kenal gue. ishhh, sakit deh gue. mana kita udah janji mau foto bareng. ah, gue mauu. tapi dia yang udah bikin gue jadi benci sama dia. kenapa sih sampe sekarang dia gak ngubungin gue? udah lupa? GAK KENAL? benci? atau gimana. kasih tau gue dong. kapan lo bisa berubah. WOY GUE SAYANG LO !

Senin, 04 Oktober 2010

Eza Gionino, kuli angkat barang, pelayan, sekarang jadi aktor





PENGGEMAR sinetron BCL (Bayu Cinta Luna-red) pasti mengenali sosok cowok putih cute yang dikenal sebagai Ivan. Di awal-awal episode, mungkin Anda malas melihat tingkah Ivan yang menyebalkan -- membenci istrinya sampai tega melukai. Tapi lama-lama, memasuki episode ke-100, perlahan-lahan emosi Anda mulai mereda dan Anda pun mulai berpikir, cowok satu ini lucu juga, ya. Siapa sih dia? Aktor kelahiran Samarinda, 11 Mei 1990 ini sudah cukup lama merambah dunia akting, lho.
Eza Gionino mengawali kariernya di dunia hiburan melalui ajang pemilihan model sebuah majalah remaja tahun 2006.
“Suatu hari pas lagi buka-buka majalah, kakakku  ngomong begini: Za, kamu harus ikut-ikut kayak begini nih. Aku sih ketawa saja. Jadi, itu ajang pemilihan model yang diselenggarakan sebuah produk, yang kerja sama dengan majalah. Ya sudah, kakakku menyiapkan foto-fotonya. Diam-diam dia mengirim foto-fotoku ke majalah itu. Enggak nyangka, ada kabar, aku terpilih,” ungkap Eza yang saat itu tinggal di Malang.
Inilah yang membawa Eza ke Jakarta. Memenangkan ajang itu membuat Eza ditarik sebuah production house dan dikontrak satu tahun. “Waktu itu aku sama-sama Kiki Farrel. Kami satu angkatan, seperjuangan,” ujarnya.
Layaknya pendatang baru lain, dikontrak satu tahun oleh rumah produksi bukan jaminan bisa langsung menjadi bintang besar. “Ini baru awal dari proses yang harus aku lewati,” cetus Eza. Memulai dari peran-peran kecil, di program-program mingguan. Menunggu berjam-jam untuk satu scene, mau tak mau dilewati Eza sebagai pendatang baru.
“Aku rasa hampir semua pemain pernah melalui masa-masa ini. Cuma dapat satu scene tapi harus menunggu seharian. Tapi aku melihat ini sebagai sebuah proses. Ini kerja tim. Enggak mungkin, mentang-mentang aku cuma dapat satu scene, harus minta duluan,” kata putra bungsu dari empat bersaudara ini.
Kerasnya hidup di Jakarta, bagaimana lelahnya “menunggu” di lokasi syuting itu belum apa-apa dibandingkan kerja kerasnya sejak SMP. “Hidup ini proses. Buatku mau jadi pelayan, bintang sinetron semuanya sama saja. Jadi karena dari dulu sudah terbiasa kerja, beratnya syuting sekarang, bagaimana harus menunggu berjam-jam rasanya sudah biasa saja,” ungkapnya.
Di usianya yang masih cukup belia, Eza telah berpikir bagaimana caranya membahagiakan ibu dengan jerih payah sendiri. Atau bagaimana caranya mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa harus minta kepada orangtua? Makanya jangan heran, sejak duduk di bangku SMP, cowok keturunan India-Kalimantan ini sudah cari uang untuk membiayai sekolahnya.
“Aku pengin mandiri. Karena aku melihat kakak-kakakku juga seperti itu. Kedua orangtuaku cerai, jadi aku juga enggak mau menambah beban Mama lagi. Jadi dari SMP, aku sudah cari uang sendiri, bayar uang sekolah sendiri, full pakai hasil jerih payahku. Walaupun saat itu Mama juga punya pekerjaan, dia usaha pakaian. Tapi aku enggak mau merepotkan dia,” jelas Eza.
Dari seorang kenalan, Eza pernah memberikan jasanya di bagian banquet sebuah hotel. “Tenaga lepas saja, enggak pegawai tetap, kan aku masih sekolah,” ujarnya. Deskripsi pekerjaannya itu mengangkat bangku, meja, ke ballroom atau ruang lain di hotel kalau mau ada acara.
Pekerjaan menjadi pramusaji di Pizza Hut pun dilakoni Eza. “Kerja di sana satu tahun, jadi waiter. Aku enggak pernah merasa pekerjaan A atau B rendah, dan aku enggak pernah merasa malu. Pekerjaan apa pun aku jalani,” bilangnya.
Dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang sekolah, jam 3 siang hingga jam 9 malam Eza bekerja. Beginilah rutinitas Eza saat itu. Membuatnya tak memiliki waktu bermain. “Aku dari dulu jarang nomgkrong atau berteman sama anak-anak seusiaku. Temanku kebanyakan tua. Karena kerja tadi. Pulang sekolah kerja, habis kerja sudah capek, ya aku lebih memilih istirahat, tidur di rumah,” ungkapnya.
Sampai sudah menjadi aktor, kebiasaan ini masih terbawa. Berbincang dan main dengan orang yang lebih dewasa. Satu lagi, Ruch Gaya, Ibu Eza, masih menjadi yang terpenting dalam hidupnya.
 “Dari dulu sampai sekarang, tujuanku cuma satu. Bagaimana caranya membahagiakan mama dengan jerih payahku sendiri. Sekarang mungkin aku bisa memberikan apa saja untuk dia. Kalau ditanya lebih bahagia dulu atau sekarang? Aku merasa lebih bahagia dulu, kalau ingat aku bisa sekolah tanpa minta uang sepeser pun dari dia. Kayaknya itu bisa meringankan dia banget,” papar Eza yang sempat bermain di film Best Friend (2008) bersama Nikita Willy dan Risty Tagor.

Eza Gionino - Ardina Rasti pacaran


E-mailPrintPDF
EZA-GIONINO-ARDINA-RASTI-bambangBEBERAPA bulan lalu, oleh sebuah rumah produksi, pesinetron Eza Gionino dan Ardina Rasti dipasangkan dalam FTV Pacar Extra Berondong. Dari situ, benih-benih cinta mulai muncul di antara mereka.
“Kenalnya, tiga tahun lalu, kami pernah foto cover sebuah majalah. Setelah tiga tahun, ternyata ketemu lagi pas syuting FTV,” cerita Eza saat berkunjung ke kantor Bintang pekan lalu.
Rasti yang berada di sampingnya kemudian memandangi Eza. Seolah mengingat kembali momen tiga tahun lalu.
“Yang pasti dia sudah berubah banget. Tiga tahun lalu pun ketemu ngobrolnya enggak banyak,” ucap Rasti.
Sepertinya mereka sama-sama tahu diri untuk tidak bertanya kenapa dipertemukan kembali. Mungkin takdir, mungkin juga kebetulan. Hari-hari berikutnya terasa istimewa. Di depan kamera, chemistrymereka kuat sekali. Begitu pula saat rehat syuting. Bagian dalam hati Rasti bergetar.
“Enggak tahu kenapa dari hari pertama ketemu itu bisa nyambung banget. Baik pas akting dan break. Dan, enggak nyangka chemistry-nya dapat banget,” Rasti menceritakan dengan berbunga-bunga.
Eza tersenyum seraya menimpali omongan Rasti.
“Aku juga belum pernah merasakan kayak gitu sebelum nya. Syuting kan biasanya enggak enak-enggak enakan. Tapi sama dia, malu enggak ada, take-nya enak banget. Beda deh! Kalau tiga tahun lalu kan enggak bisa ngobrol banyak karena dia ada yang punya, hahaha,” kata  cowok kelahiran Samarinda, 11 Maret 1990 ini. Rasti langsung menoleh kepada Eza.
Kira-kira tiga bulan lamanya Eza pedekate kepada Rasti. Sebagai cewek yang mandiri dan punya prinsip kuat dalam hidupnya, Rasti tergolong agak sulit ditaklukkan.
“Dia mandiri, apa-apa bisa sendiri. Misalnya, aku tawari untuk antar syuting, pasti dia bisa berangkat sendiri. Nyetir mobil segede itu. Jadi, agak susahlah dekati dia,” sambung Eza.
EZA-RASTI-bambang-thumbnail-offKelihatannya Rasti memang menikmati sekali kesendiriannya sejak tali cintanya dengan Lucky Wija putus tahun lalu. Tapi sebenarnya tidak juga. Dalam hati kecilnya ia butuh seorang pendamping yang bukan hanya menya yangi dan mengerti, tapi juga bisa meng ambil hatinya.
Yakin dengan perasaannya, Eza terus maju. Ia tak pernah lelah memberikan perhatian, sekecil apa pun kepada Rasti.
Alhasil, perasaan Eza yang ta di nya campur aduk langsung hilang begitu Rasti memberikan kepastian.
“Kami resmi jadian tanggal 24 Agustus 2010. Masih baru banget, kan?” Rasti mengingat hari itu sebagai hari istimewanya.
“Aku enggak pernah minta dia jadi pacar aku. Tapi kelihatan dari caraku. Dia juga pasti merasalah aku suka dia,” sambung Eza yang mengawali karier lewat ajang Coverboy sebuah majalah remaja.
Lalu, apa alasan Rasti menerima Eza? Pastinya sih karena keren. Cuma itu bukan satu-satunya.
“Aku enggak nyangka Eza ternyata dewasa banget. Apalagi di usianya sekarang. Soalnya banyak banget yang bilang, apa aku yakin pacaran sama cowok yang lebih muda. Bisa jadi dia manja. Ternyata dia jauh lebih dewasa, dan aku berasa kayak lebih anak-anak,” jelas pelantun lagu Kangendan Cuma Coba-Coba itu.
Dari nada suara Rasti yang serius, Eza tahu apa yang ia katakan penting baginya. Tapi Eza sama sekali tidak besar kepala. Menurut Eza, perhatian yang ia berikan masih dalam batas wajar. Tidak berlebihan.
Rasti kemudian meneruskan bicaranya.
“Banyak sikap dewasa dari dia. Mulai dari menyikapi tanggung jawab ke diri sendiri dan keluarga, sampai detail-detail dia perhatikan.  Itu ternyata di atas seumurannya, sampai caranya memperhatikan aku, itu pas. Seperti yang aku butuhkan. Aku kan cuek orangnya sama diri sendiri. Baru lihat sendiri kalau kedewasaan itu tidak diukur dari umur," seru Rasti.
Baru satu bulan pacaran, banyak perubahan positif yang diberikan satu sama lain. Eza, misalnya, menasihati Rasti untuk jadi orang yang tidak kelewat cuek.
“Aku kan kalau makan berantakan, enggak jaga kesehatan, dan dia selalu serius mengingatkan. Enggak selewatan saja. Aku senang diingatkan begitu,” ungkap Rasti dengan senyum lebar.
Eza yang merasa sudah dewasa, jadi makin dewasa lagi dengan adanya Rasti.
“Ibaratnya, tujuan hidup lebih mantap lagi. Mungkin aku berkaca dari kehidupan dia juga.” Dengan kesibuk an masing-masing, keduanya selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Penting buat mereka, agar tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian.
“Pekerjaan kami sama, jadi bisa lebih ngerti. Untungnya kami berdua sangat suka telepon-teleponan. Enggak cuma BBM atau SMS,” tandas Rasti.
“Kalau dia syuting pagi, aku siang, paginya aku bisa main ke lokasi syuting dia dulu. Baru berangkat pas jam calling,” Eza menambahkan.
Ok, deh. Selamat, semoga akur-akur aja ya.